Blockchain Zoo Sosialisasikan Pemanfaatan 'Blockchain' bagi Perbankan

JAKARTAINSIGHT.com | Istiilah ‘Blockchain’ di Indonesia boleh dibilang masih sangat terbatas, kendati teknologi itu memang identik dengan ‘Bitcoin’ yang penggunaannya tidak diperbolehkan di Indonesia oleh pihak Bank Indoonesia, namun itu hanya salah satu aplikasi dari pemanfaatan teknologi Blockchain atau bisa dikatakan,”Bitcoin is a Blockchain, But Blockchain is not a Bitcoin”. 

Pada dasarnya, Blockchain sendiri merupakan buku besar digital yang terdesentralisasi, yang meliputi transaksi-transaksi, dan bekerja dengan data yang diatur melalui serangkaian catatan yang disebut blok, dan sistem Blockchain bisa membaca lebih banyak data dan sangat transparan. Data yang dikumpulkan dapat dibaca oleh beberapa database.sehingga aman dan efektif digunakan segala lapisan industry, salah satunya industry perbankan.

Tom Chitty dari CNBC, menganalogikan Blockchain seperti “Google Document raksasa”. “Seperti Google Doc raksasa dengan satu kunci yang berbeda. Anda bisa melihatnya, dan menambahkannya (catatan transaksi), tapi tak bisa mengubah informasi yang sudah ada di sana. Blockchain melakukan itu dengan hitung-hitungan matematika bernama kriptografi. Yang membuat rekaman itu tak bisa ditiru dan diubah oleh orang lain,” jelas Chitty

Sebagai  perusahaan consultant IT tanah air yang focus terhadap blockchain, ‘BLOCKCHAIN ZOO’ boleh dibilang cukup fenomenal, dimana saat ‘bitcoin’ diblokir oleh BI (Bank Indonesia), perusahaan ini bersama pihak OJK (Otorisasi Jasa Keungan) justru mensosialisasikan teknologi blockchain ke sejumlah perbankan daerah (Bank Pembangunan Daerah) seperti yang mereka gelar pada 22-23 November 2017 lalu, dimana Blockchain Zoo bersama OJK memberikan training ke sejumlah BPD dalamm event bertajuk ‘Pelatihan Pengelolaan Kinerja Lembaga Keungan’ yang diselenggarakan di Jakarta.

Lalu pertanyaanya, apa yang dapat disinergikan dari teknologi Blockchain terhadap industri perbankan tersebut,? Ditemui di Shanrila Hotel – Jakarta, Chairman of the Board Blockchain Zoo, Pandu Sastrowardoyo menyampaikan, ”Saya mengambil contoh, L/C (Letter of Credit). Transaksi yang dilakukan bank antar Negara, pada prinsipnya dokumen harus di cek antar pihak sebelum ke pihak penerima. Hal itu tentu saja memakan waktu bertransaksi, selain itu juga ada kemungkinan penyelewengan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan. Jika dilihat, maka akan ditemukan issue trust, waktu, dan biaya. Dengan teknologi ini, issue-issue diatas bukanlah menjadi kekhawatiran lagi.”

“Jika sebuah bank mengadopsi teknologi blockchain, cost deduct nya sangat besar sekali serta jauh lebih aman, jika selama ini seluruh data terkoneksi di satu server dimana seluruh data bergantung divisi IT, dengan teknologi blockchain ini justru memungkinkan seluruh divisi dapat mengaudit dimana masing-masing divisi mempunyai server sendiri yang diikat menjadi satu oleh blockchain sehingga dapat mendeteksi perbedaan data atau penyelewengan,” ungkap Pandu. 

Dari fakta-fakta blockchain diatas, dapat ditarik kesimpulan, Blockchain yang awalnya ditakuti perbankan dan instansi keuangan lainnya. Kini, justru dirasa sangat perlu dan bisa bersinergi dengan seluruh industri tanah air.

Editor:Ganest

Artikel Terkait

BERITA LAINNYA